Kamu Bukan Sahabatku (24 Mei 2009)
Ardi sedang bercakap-cakapan di kelas. Kemesraan yang biasanya
dimiliki Ratna dan Ardi, kini telah kunikmati juga. Aku terdiam dan bingung
menatap Ratna dengan berurai dan langkah penuh emosi. Ardi mengejar Ratna,
berusaha menjelaskan semua. Entah kebohongan apalagi yang akan dia keluarkan
untuk merayu Ratna. Aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada mereka, mungkin
mereka sudah berbaikan atau mereka masih beradu mulut. Sejuta pikiran
berkecamuk di otakku. Aku memang harus siap menghadapi segala resiko, bukankah
dari dulu aku tahu Ardi adalah milik Ratna apapun alasannya, aku nggak boleh
merusaknya. Yang sekarang aku takukan adalah kehilangan Ratna, kehilangan
persahabatan, takut menghadapi sikap Ratna yang penuh keceriaan, tapi itu lebih
membuatku tersiksa. Seorang teman datang menghampiriku dan bertanya tentang
Ratna “mengapa Ratna menangis?”. Kuambil nafas dalam-dalam sebelum menjawab
pertanyaannya, kusiapkan hatiku untuk menjawab semua yang terjadi.
Kuingat
Ratna, dia yang sedang bersaing denganku untuk mendapatkan Ardi. Sungguh kejam,
aku telah mengoreskan luka dihati Ratna. Aku selalu berharap kamu segera datang
dan maki-maki aku sepuas hatimu mungkin itu yang bisa buatku mengerti.
Ingatanku terbang kemana-mana. Aku menampak sewaktu kali mengenal Ardi. Seorang
pemuda yang lumayan keren, dandanan santai, tatapan tajam, kulit bersih, bahkan
lebih putih dari Ratna. Ops…….aku baru nyadar Ardi memiliki criteria cowok yang
aku idamkan. Sesegara mungkin aku singkirkan pikiran itu. Semenjak itu kami
sering SMS-an dan emailan. Namun terkadang aku merasa risih juga dan aku lebih
memilih untuk tidak membalasnya.
“Ar, cariin
pacar buat Dani dong………biar kita bisa dobel date!” Itulah yang sering dikatakan
Ratna. Mendengar hal itu kami sering tertawa bersama. Kebersamaan kami otomatis
membuat keakraban. Tidak aku pungkiri seringku merasa iri dengan Ratna dan
terkadang aku berpikir suatu saat Ardi jadi pacarku. Hingga suatu hari
benar-benar diluar dugaanku. Ardi datang kerumahku. Pertama kali aku berpikir
dia membawa berita dari Ratna, karena mereka sedang marah.
“Ar, ada
apa? Ratna baik-baik aja khan!” Tanyaku dengan perasaan takut. “Kenapa siy
selalu mikirin orang lain. Ratna baik-baik aja kok!” Dengan suara lembut Ardi
menjawab pertanyaanku. Kami cerita banyak malam itu dan sejak itu Ardi sering
datang ke rumahku. “Ar sorry, bukannya aku ge-er, tapi aku benar-benar heran
dengan kita berdua……….”.
“Sstt………!!!”.
Ardi meletakkan telunjuknya dibibir memberi tanda agar aku berhenti padahal aku
belum selesai bicara, “Jangan tanya kenapa karena aku tidak akan pernah bisa
menjawabnya, aku tahu kamu heran. Tapi aku juga 1000X lebih heran. Aku suka
kamu entah dari mana awalnya,yang pasti perasaan ini tak bisa dibohongi!”.
Sebenarnya aku tahu jawaban seperti ini tidak akan membuatmu puas,tapi rasa
berdetak dihati seperti genderang mau perang.
“Please,
kumohon jangan katakana pada Ratna. Kamu nggak tahu bagaimana aku berusaha
menahan perasaan ini, bagaimana sakitnya aku tidak bisa menyentuh dan
merangkulmu”. Aku tak menyangka Ardi akan mengucapkan kata-kata yang
menghanyutkanku kedalam cinta ini.
“Kamu
seperti maya dalam hidupku, begitu dekat tapi sulitku sentuh” Tanpa sadar aku
menggeleng.
“Jangan
bilang kamu nggak suka aku, jangan bilang kamu nggak pernah menginginkanku jadi
pacarmu, jangan Dan………!” Ardi meraih tanganku dan menarikku kedalam pelukannya.
Aku nggak tau harus bilang apa dan aku biarkan diriku tenggelam dalam perasaan
sendiri. Aku lupa arti persahabatan, aku lupa perasaan Ratna. Aku mulai
menuruti apa yang diinginkan oleh hatiku.
*****
Pagi
menjelang, tiba saatnya aku untuk bersekolah dan bertemu kembali dengan Ratna
yang sedang marah padaku. Bel berbunyi dengan nyaring tanda pelajaran akan
dimulai.
Guru masuk
ke kelas dengan senyuman yang ramah.
“Selamat
Pagi!” Sapa guru dengan senyuman.
“ Selamat
Pagi!” Menjawab dengan serepak.
“Ratna dari
mana saja mengapa terlambat?” Aku malu sekali untuk bertanya padanya.
“Dari
kantin!” Menjawab dengan nada kesal.
“Mengapa tak
ajak aku!” Aku malu sekali untuk bertanya padanya.
“Tak apa aku
hanya ingin sendiri!” Dia menjawab dengan perasaan marah.
Ratna pergi
setelah melihatku dan Ardi. Dia menyimpan kemarahan padaku dan Ardi. Tasnya
diletakkan dengan melemparkan.
Temanku
tersenyum ketika memberikan sobekan kertas yang tertulis “Dia tahu kamu disini
dan dia mendengar apa yang Ardi katakan padamu kemarin” Selama pelajaran
berlangsung aku yang duduk bersamanya merasa tersiksa dengan sikap Ratna yang
diam tanpa kata.
Pulang
sekolah kami jalan bersama karena kebetulan rumah kami searah dan berdekatan.
Aku berusaha agar dapat berbicara dengannya. “Ratna aku mohon kamu boleh marahi
aku, atau mungkin pukul aku sampai mati. Tapi tolong jangan hukum aku seperti
ini!” Aku tak tahu apa yang aku katakan ini suatu penyesalan, sayang, atau
persahabatan yang selama ini telah aku ingkari keberadaannya .
Dia mulai
mengatakan sesuatu. Rasa takut bercampur senang menjalar dihatiku mengalahkan
kecemasan yang sebelumnya menyergap bibirku. Ratna tiba-tiba tersenyum dan
memanggil namaku.
“Dan……..!”
Aku segera menoleh. Rasa bersalah dan senang bercampur aduk menjadi satu.
Kutarik nafas panjang sebelum menoleh. Kupandang Ratna wajahnya terlihat ceria.
Aku harus menghadapi semua ini. Aku tak percaya Ratna tersenyum padaku. Segera
kupeluk tubuh Ratna sambil menangis.
“Sorry…...!”
Hanya itu yang bisa aku katakan.
“Aku tidak
akan menghukumu dalam bentuk apapun juga, karena kamu bukan temanku”. Aku
tersentak mendengar kata-kata Ratna. Persendianku terasa dan tulang-tulangku
hilang dari tubuhku.
“Inikah
hukumanmu Ratna……..?” Hatiku berseru.
“Kamu lebih
dari teman. Kamu sahabatku, saudaraku, dan kamu lebih dibanding 1000 Ardi!”
kupeluk tubuh Ratna. Aku janji Ratna aku tidak akan menghianatimu lagi karena
kamu bukan temanku melainkan sahabatku,saudaraku, dan kakakku yang sangat
berarti untukku. Terima kasih Tuhan.
Komentar
Posting Komentar